Search

Aceh

Sejarah

Mulanya, Pulau Bunta adalah sebuah pemukiman warga. Namun, pulau ini ditinggal penghuninya usai disapu badai tsunami penghujung 2004 silam. Pulau ini mampu mewakili paras nusantara, sebuah negara kepulauan. Pulau Bunta masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Usai ditinggal penghuninya, pulau ini dijadikan kebun oleh para pemilik lahan yang kemudian hijrah ke Kota Banda Aceh. Kelapa yang menjadi tumbuhan khas hutan tropis menjadi populasi terbesar. Sementara daratannya sendiri dikelilingi pantai berkarang dengan air sejernih cermin. “Pulau Bunta masih sangat alami dan asri. Meski pun pulau ini banyak ditumbuhi kelapa, tapi uniknya tak ada monyet, tupai, ataupun ular,” terang Herli Nurdiansyah. Pemuda yang akab disapa Ayi ini memang penggemar traveling. Ia dan kawan-kawannya sudah beberapa kali ke pulau ini. Tak hanya sebagai traveler, tetapi ia juga kerap memandu pelancong. Jika berangkat dari Kota Banda Aceh, wisatawan bisa menyeberang ke Pulau Bunta melalui Desa Ujong Pancu, Kecamatan Peukan Bada. Alternatifnya adalah kapal nelayan berkapasitas 15-20 orang. Pemilik kapal mematok tarif Rp 700.000 untuk sekali berlayar. Perjalanan laut tersebut memakan waktu sekitar 45 menit. Mengingat kapal yang digunakan berukuran kecil, maka kondisi cuaca menjadi pertimbangan sebelum berlayar. Ditambah lagi perairan tersebut merupakan tempat pertemuan arus.

Jangan Lupa di Bagikan :

Lihat Lokasi

Add Review

Your email is safe with us.
Add Photos